Positifers Daftar » Masuk
Logo KlikPositif
WIB
Logo Classy FM Logo Facebook Logo Twitter
Jum'at, 17 Januari 2014 | 16:17 WIB
Menyelamatkan Primata Mentawai
Berburu dilakukan oleh tetua masyarakat Mentawai dalam ritual yang disebut punen, upara adat yang selalu diakhiri dengan berburu.
Penulis: Andika D Khagen | Editor: Redaksi
Menyelamatkan Primata Mentawai
Ilustrasi (monyetdaun.blogspot.com )

KLIKPOSITIF -- Brak!. Sebuah benda terlihat jatuh dari atas pohon. Dua orang lelaki dengan panah di tangan bergegas menghampiri. Lelaki itu mengangkat benda serupa monyet lalu bergegas pergi.

Yang jatuh dari pohon itu adalah simakobu (simias concolor). Masyarakat menyebutnya dengan monyet ekor babi. Penyamanya dengan babi barangkali ekornya yang pendek dengan tubuh gempal.

Adam Smith, 28 tahun, warga Siberut, menceritakan pengalaman berburu itu dengan semangat. Tapi, ia mengaku belum pernah melakukannya. “Berburu itu hanya boleh dilakukan orang-orang tertentu,” ujarnya, Kamis, 2 Januari 2014.

Peneliti budaya Mentawai, Bambang Rudhito, mengatakan, berburu dilakukan oleh tetua masyarakat Mentawai dalam ritual yang disebut punen, upara adat yang selalu diakhiri dengan berburu.

“Simakobu adalah target utama. Bukan untuk dimakan, tapi demi mendapatkan berkah,” ujarnya penulis buku Masyarakat Dan Kebudayaan Suku Bangsa Mentawai, Senin, 12 Januari 2014.

Masyarakat meyakini, sebutnya, simakobu adalah jelmaan manusia sakti. Karena kesaktian itu, simakobu tidak mudah ditangkap. Keberhasilan menangkapnya diartikan sebagai naungan keberkahan. Usai ditangkap, tengkorak simakobu digantung di depan uma (rumah adat) agar keberkahan selalu datang.

Namun, simakobu bukanlah satu-satunya jenis primata yang diburu. Masyarakat Mentawai juga berburu bokkoi atau beruk Mentawai (macaca siberu), joja atau lutung (presbytis potenziani), dan bilou atau siamang Mentawai (hylobates klosii).

“Dibanding binatang lain, primata dianggap sebagai binatang yang mempunyai nilai luhur. Ini disangkakan karena sifat dan bentuknya yang nyaris mirip dengan manusia,” ujar Antropolog Tarida Hernawati.

Berburu, sebut penulis buku Kumpulan Cerita Rakyat Mentawai  ini, hanya sebuah cara untuk menjaga nilai luhur. Makanya, berburu tak dilakukan setiap hari, tapi setelah upacara adat, misalnya, perkawinan atau kematian, agar setiap yang dilakukan dinaungi keberkahan.

 

Keunikan Primata Mentawai

Peneliti di Taman Nasional Siberut (TNS), Ridho Akbar, mengatakan, primata Mentawai memiliki keunikan masing-masing dan tak ditemui di negara lain. Simakobu, misalnya, diyakini sebagai spesies tunggal (monoleptik), hanya satu jenis di tingkat genus.

“Para ahli masih berdebat soal ini. Ada yang menilai bekantan (nasalis larvatus), primata berhidung mancung di Kalimantan sebagai saudara terdekat simakobu,” ujar Ridho Akbar kepada KLIKPOSITIF, Senin, 13 Januari 2014.

Tapi, sebut Ridho, Simakobu berlainan dengan bekantan karena ekornya yang pendek menyerupai ekor babi, badan yang gemuk pendek, dan aggota badan yang sama panjang. Tubuh ini merupakan penyesuain dari kehidupannya yang memakan daun dan hidup di atas pohon.

Simakobu termasuk bintang yang tidak lincah. Ia tidak bisa berjalan cepat dan berlari kencang ketika diburu. Sifatnya ketika diburu berlari dalam jarak dekat kemudian bersembunyi dalam kanopi.

Menurut Ridho Akbar, Simakobu termasuk binatang yang setia dengan pasangannya. “Jika betinanya mati, akan sangat sulit untuk mencari pasangan baru. Kalaupun ada yang mencari pasangan baru, harus melalui pertengkaran dengan pasangan yang lain,” ujarnya.

Jika satu kelompok melarikan diri, sering terjadi betinanya tertinggal di belakang. Ini mengakibatkan simakobu betina lebih banyak dibunuh daripada jantan. “Keadaan ini tentu merugikan untuk perkembangbiakan simakobu,” sebut Ridho Akbar.

Bilou atau siamang termasuk ke dalam jenis gibon yang paling primitif. Primata ini paling dikenal di Mentawai karena sifat khasnya pandai bernyanyi. Kumpulan bilou di pagi hari akan bernyanyian sahut-sahutan rentang waktu 10 menit hingga 12 jam.

“Nyanyian bilou betina dijuluki nyanyian terindah yang dilantunkan mamalia darat,” ujar Ridho Akbar.  Menurutnya, bilou juga termasuk jenis ungko tertua dengan bulu-bulu yang jarang berwarna hitam gelap. Ia memiliki selaput antara jari kedua dan ketiga.

Bilou hidup di pohon dan memerlukan ragam pohon-pohonan hutan dewasa yang dapat menyediakan berbagai jenis buah-buahan yang masak sepanjang tahun. Bilou tidur di pohon-pohon besar dengan kanopi yang bersambungan sebagai tempat berjalan.

Sementara Joja atau Lutung Mentawai memiliki bentuk yang paling indah dari jenis primata Mentawai lainnya. Menurut Bambang Rudhito, Joja punya ciri khas punggung hitam berkilat, bagian perut berwarna cokelat tua, warna putih di sekitar muka, leher serta ekor yang panjang, dan hitam seperti sutera.

Dibanding primata lain, Joja adalah jenis yang sepanjang hidupnya tinggal di pohon dan jarang sekali turun ke tanah. “Setengah makanannya adalah buah-buahan, 35 persen daun-daunan, dan 15 persen biji-bijian kacang, dan bunga,” ujarnya.

Joja termasuk genus tropis Asia yang cukup besar dan menyebar lusa. Sifat khasnya, betina dewasa ikut serta dengan pasangannya dalam pekikan dan peragaan tantangan terhadap kelompok lain. Tidak seperti ungko dan jenis primata lain, hanya jantan saja yang melakukan kedua hal tersebut.

Primata lain, bokoi atau beruk Mentawai, ciri khasnya hidup berkelompok. Satu kelompok biasanya terdiri dari 30 ekor. Kelompok membagi diri menjadi grup kecil untuk mencari makanan dan bergabung dengan masing-masing kelompoknya pada malam hari.

Menurut Bambang Rudhito, Bokoi erat kaitannya dengan beruk yang ada di Sumatera, Kalimantan, dan Asia Tenggara. Bedanya, ia memiliki bulu yang paling gelap di antara sejenisnya yang kontras dengan bagian pipi yang putih serta pekik yang unik.

Uniknya, jika biasanya beruk hidup di pulau-pulau besar, bokoi bisa bertahan hidup di pulau-pulau kecil seperti Siberut.  Tempat hidupnya lebih luas. Bokoi bisa hidup dari daerah mangrove ke hutan primer sampai pada hutan yang ditebang dan dijadikan lading oleh manusia.

Bedanya dengan primata lain, bokoi lebih banyak berada di bawah (tanah), tidak di atas pohon. Karena itulah, bokoi paling mudah ditangkap.

 

Tradisi Melawan Kepunahan

Tradisi berburu masyarakat Kepulauan Mentawai dihadapkan pada persoalan semakin berkurangnya jumlah primata. Survei Bersama Balai Taman Nasional Siberut (TNS) dan Unesco pada tahun 2011 menunjukkan, populasi monyet ekor babi di taman nasional mencapai 8.739 ekor. Diperkirakan, dalam sepuluh tahun terakhir, populasi simakobu mengalami penurunan hingga 80 persen.

International Union Conservation Nature (IUCN) menetapkan Simakobu sebagai 25 primata yang paling terancam di dunia dengan status kritis (endangered). Pada tahun 2006, jumlah primata ini masih mencapai 17.300 ekor.

Masih berdasarkan survei ini, jumlah populasi bokkoi 11.365 ekor, joja 14.094 ekor, dan bilou 7.991 ekor. Peneliti di TNS Ridho Akbar, mengatakan, angka ini diperoleh dari total survei di 18 titik dengan metode transek jalur tertutup (closed circuit line transek) secara acak dengan ukuran per petak mencapai 925 x 925 meter. Total wilayah yang masuk ke dalam wilayah survei mencapai 2.823 kilometer dari 190.500 hektare luas TNS.

“Bokkoi jumahnya paling sedikit,” ujar Ridho Akbar kepada KLIKPOSITIF, Senin, 13 Januari 2014. Menurut Ridho Akbar, penelitian dengan menggunakan sampel, per hektarnya, simakobu ditemukan dua hingga tiga ekor. Joja dan Bilou pun dengan jumah yang sama.

Tapi bokkoi, sebutnya, dalam home range 1 kilo x 1 kilo, hanya ditemukan satu ekor. Ini dapat dimaklumi, sebut Ridho, karena bokkoi satu-satunya dari primata Mentawai yang berjalan di tanah, hingga gampang diburu. Sementara primata lain hidup di atas pohon sehingga menyulitkan ketika diburu manusia.

Tapi, keempat primata ini sama-sama diberi status endemik dalam daftar CITES. Bokkoi berstatus Critically Endangered, Joja berstatus Endangered, spesies hidupan liar yang tidak boleh diperdagangkan. Bilou berstatus genting atau Endangered Species, tidak boleh diperdagangkan.

Sejumlah peneliti percaya empat spesies ini masih menghuni empat pulau besar di Kepulauan Mentawai yaitu Pagai Selatan, Pagai Utara, Sipora, dan Siberut.

Penelitian dari Organisasi Konservasi Fauna dan Flora Internasional (FFI) menunjukkan hal serupa. Peneliti FFI, Charles Nahot Simanjuntak, di Padang, mengatakan, khusus untuk bilou, populasinya hanya tinggal seribu ekor untk seluruh hutan di Mentawai di luar TNS. “Pada 2005, populasinya sebanyak 25 ribu ekor,” ujarnya.

Tapi, peneliti primata, Bambang Rudhito, tak setuju jika penurunan jumlah primata disebabkan aktifitas berburu. Menurutnya, berburu masyarakat Mentawai berkaitan dengan budaya, tidak untuk kebutuhan makanan, sehingga jumlah yang mati pun tidak siginifikan. Ia menilai, aktifitas penebangan hutan penyebab terbesar karena menghilangkan habitat.

Susilo Hadi dan Thomas Zieglera dalam tulisannya Group strukcture and physical Characteristics of Simakobu monkeys yang dimuat SCP (Siberut Conversation Programme), memperkuat bahwa perburuan tradisional menyumbang tekanan relatif rendah bagi populasi Simakobu.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumbar, Khalid Saifullah, mengatakan, kerusakan hutan di Mentawai bermula ketika daerah ini berpisah dari Padang Pariaman, sekitar tahun 2000. Rentang waktu 2002-2003, pemerintah Mentawai mengeluarkan 37 Izin Pemanfaatan Kayu (IPK) dan tiga HPH.

Menurutnya, dalam prakteknya IPK beroperasi di kawasan hutan indrustri, keluar dari izin yang diberikan. “Itu penelitian kita,” ujarnya.

Catatan Walhi, kerusakan hutan akibat HPH dan IPK ini, sekitar 41.800 hektare hutan di Kabupaten Mentawai dari 90 ribu hektare berada dalam kondisi kritis. “Praktis, hanya kawasan TNS yang masih bisa dilindungi hutannya,” sebut Khalid.

Walhi, sebutnya, sudah memperingatkan pemerintah daerah untuk melarang mengeluarkan HPH dan IPK. Selanjutnya manata kawasan hutan dengan menerbitkan peraturan mana hutan yang dilindungi, hutan produksi, dan hutan adat. “Di Sumbar, pemetaan kawasan hutan ini yang tak jelas,” ujarnya.

Ia khawatir, selama pemataan kawasan hutan tak dilakukan, selain hilangnya kawasan hutan, primata Mentawai suatu saat akan tinggal cerita tentang keunikannya. (*)