Positifers Daftar » Masuk
Logo KlikPositif
WIB
Logo Facebook Logo Twitter
Senin, 29 Juli 2013 | 15:32 WIB
Pengamat: Golput Fenomena Normal dalam Demokrasi
Fenomena golput bukan hanya faktor politik seperti perilaku elit di parlemen, lemahnya pendidikan politik, sosialisasi politik dan komunikasi politik tetapi lebih pada soal administrasi kepemiluan.
Wartawan: Andika D Khagen | Editor: Redaksi
Pengamat: Golput Fenomena Normal dalam Demokrasi
ilustrasi (youtube.com)

KLIKPOSITIF – Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang Ahmad Atang mengatakan kelompok golongan putih (Golput) dalam sebuah negara yang menganut paham demokrasi merupakan fenomena normal dan biasa-biasa saja.

"Namun, pilihan untuk tidak menggunakan hak politik atau golput harus yang diambil secara rasional, bukan atas dasar emosi jiwa terhadap situasi politik yang ada," kata Atang di Kupang, Senin, ketika ditanya soal fenomena golput menjelang Pemilu 2014.

Berdasarkan sebuah survei yang dilakukan secara nasional soal perkembangan orang-orang yang belum bisa menentukan pilihannya dalam Pemilu 2014 (swing voter) dan dikuatirkan akan menjadi golput.

Di Indonesia, kata dia, fenomena golput bukan hanya faktor politik seperti perilaku elit di parlemen, lemahnya pendidikan politik, sosialisasi politik dan komunikasi politik tetapi lebih pada soal administrasi kepemiluan.

"Ada banyak orang yang namanya tidak masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) sehingga berpotensi untuk golput. Ada juga nama dalam DPT, tetapi tidak mendapat surat panggilan dari pelaksanaan pemilu di tingkat bawah," katanya mencontohkan.

Ia menegaskan jika persoalan administrasi yang sepeleh ini saja tidak bisa dibenahi dan ditata dengan baik, bagaimana mungkin berharap partisipasi politik rakyat dalam sebuah pelaksanaan demokrasi.

"Ini persoalan kecil tapi dampaknya cukup dahsyat. Bagaimana mungkin kita mengharapkan sebuah pelaksanaan pemilu yang berkualitas jika persoalan administrasi kepemiluan tidak bisa dibenahi oleh negara," ujarnya.

Mengenai banyaknya pemilih yang belum menentukan pilihan, dia mengatakan hal itu terjadi karena figur yang diusung partai politik tidak memiliki nilai jual serta tidak ada figur yang fenomenal yang menjadi alternatif pilihan.

"Saat ini masyarakat belum menentukan pilihan karena figur yang diusung parpol tidak menjual, begitu juga belum ada figur yang fenomenal," kata Pembantu Rektor I UMK itu.

Selain itu, ia menilai, figur yang diusung parpol juga masih stok lama atau muka lama sehingga menimbulkan kejenuhan publik terhadap figur yang sering menjual tampang setiap lima tahun itu. (Ant)