Positifers Daftar » Masuk
Logo KlikPositif
WIB
Logo Facebook Logo Twitter
Kamis, 13 Juni 2013 | 09:10 WIB
Membangun Potensi dan Motivasi Siswa
Pertanyaannya kenapa hal itu bisa terjadi?Menurut penulis sebabnya karena dua hal.Pertama, system pendidikan kita lebih menekankan pada aspek ilmu pengetahuan dan skill akademik saja (hard skill),
Wartawan: Boy Hadi Kurniawan | Editor: Redaksi
Membangun Potensi dan Motivasi Siswa
Siswa (net)

Kita semua mengetahui bahwa angka kemiskinan dan pengangguran cukup tinggi di Negara kita. Banyak yang mengatakan bahwa pengangguran terjadi karena kurangnya pendidikan seseorang, tapi kenyataannya pengangguran yang terdidik atau pengangguran intelektual jumlahnya cukup tinggi.

Penulis mendapatkan informasi bahwa pengangguran yang telah menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi atau sarjana mencapai jumlah 1 juta orang. Jumlah ini jelas tidak sedikit dan mengkhawatirkan.

Pertanyaannya kenapa hal itu bisa terjadi? Menurut penulis sebabnya karena dua hal. Pertama, sistem pendidikan kita lebih menekankan pada aspek ilmu pengetahuan dan skill akademik saja (hard skill), sehingga kurang memperhatikan pengembangan potensi, perbaikan pola pikir (mind set), peningkatan motivasi serta pembangunan karakter seseorang (soft skill). Ukuran kesuksesan siswa dikaitkan dengan penguasaannya terhadap ilmu pengetahuan yang bersifat akademik -meskipun itu penting- tapi hal yang bersifat pengembangkan diri dan kepribadian seperti;pola pikir positif, sikap mental positif, kreativitas, minat dan bakat, serta karakter siswa seperti kejujuran, keimanan, tanggung jawab, kerjasama, kepeduliandan lain-lain, kurang mendapatkan porsi yang seimbang. Padahal dalam medan kehidupan dan dunia pekerjaan hal ini sangat dibutuhkan. Akibatnya seseorang mengalamikrisis moralitas/akhlak, kurangnya kreatifitas, kurang minat untuk belajar yang mengakibatkan kurangnya wawasan, dan tentu saja kurang motivasi dan minim aksi (tindakan).

Di sebagian sekolah kecendrungan seseorang anak “dihargai” bukan berdasarkan bakat dan potensinya (ekstrakurikuler) tapi lebih kepada nilai akademisnya (kurikuler).Kemampuan ekstrakurikuler dianggap sebagai kemampuan kelas dua.Padahal dalam lapangan kehidupan banyak orang yang sukses bukan bersandarkan pada nilai akademis semata tapi pada pengembangan bakat dan potensi yang dimilikinya.

Menurut Daniel Goleman kecerdasan intelektual hanya berpengaruh 5 % dan maksimal 20 % saja terhadap keberhasilan seseorang dalam kehidupan.Sebagai contoh para pemain sepakbola, para penyanyi dan musikus, para penulis dan sastrawan, para penjual dan marketer, pembicara dan trainer, para organisatoris dan pengusaha dan lain sebagainya. Mereka adalah contoh orang yang berkembang dengan kreativitas yang  digali dari bakat dan potensinya tersebut, bukan kecerdasan intelektual/akademis semata. 

Kedua, karena pendidikan di keluarga kurang memperhatikan aspek pertumbuhan anak. Orang tua masih kurang pengetahuan tentang cara pendidikan anak sehingga kadang sikap orang tua sering kontraproduktif.Seperti;sering marah, sering mengeluarkan kata-kata kasar, sering merendahkan anak, sering memukul anak, sering melarang anak ketika akan berbuat sesuatu yang menyebabkan potensi dan kreativitasnya tidak berkembang.

Salah satu buku terkenal didunia pendidikan yang berjudul Quantum Learning karangan Bobbi De Porter mengungkapkan, bahwa kata-kata negatif berupa larangan atau kritikan jumlahnya mencapai 86 % diterima oleh anak setiap hari dibandingkan dengan kata-kata positif berupa dukungan dan motivasi hanya 14 % saja. Akibatnya konsep diri anak menjadi negatif, anak menjadi takut, tidak berani, dan tidak percaya diri ketika melakukan sesuatu.

Misalkan ketika anak mau memanjat, kita lebih suka mengatakan “jangan memanjat nanti jatuh”. Itu adalah bentuk kalimat negatif, sehingga alam bawah sadar (unconscious mind) anak-anak kita terbiasa untuk berpikir negatif.Akibatnya sangat luas, dalam melakukan apapun dia berpotensi untuk tidak percaya diri, takut melakukan sesuatu yang baru, kurang berani sehingga ide-ide cerdas dan kreativitasnya tidak berkembang.

Lalu, kenapa pengangguran sangat erat kaitannya dengan kurangnya kreativitas? Karena jika seseorang berpikir kreatif, dia tidak akan menjadi pengangguran. Kita lihat hari ini lapangan kerja tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja.Akibatnya tentu tidak semua orang terserap lapangan pekerjaan.Seseorang yang kreatif, jika tidak diterima oleh pekerjaaan, maka dia akanmenciptakan lapangan pekerjaannya sendiri (wirausaha) sesuai dengan bakat dan skill yang dimilikinya.

Ternyata, orang-orang yang sukses di kehidupan adalah mereka yang mandiri, kreatif dan berhasil memunculkan prestasi yang berbasis potensi yang mereka miliki.Seperti Bill Gates misalnya yang menemukan Microsoft, atau Mark Zuckerberg yang menemukan Facebook dan sebagainya.

Jika kita lihat benang merah dari pengangguran terdidik di Negara kita berawal dari ketika masa kecil, beranjak remaja dan kemudian dewasa. Semenjak sekolah kita menemukan permasalahan-permasalahan yanghari ini dialami oleh siswa kita. Banyak di antara siswa kita yang kehilangan orientasisekolah. Mereka merasa bahwa orang tua yang memaksa mereka untuk sekolah sehingga tidak menjadi kebutuhan bagainya.

Mereka belum memahami apa urgensi belajar dan menuntut ilmu. Mereka tidak dibimbing untuk memiliki impian dan cita-cita hidup, akibatnya mereka tidak punya rencana hidup serta tidak punya manajemen diri dan waktu.Bahkan ada kisah guru yang mencuri impian siswanya, dengan mematahkan dan mengatakan tidak mungkin impian siswanya tercapai, karena dia miskin, bodoh dan sebagainya.

Terlebih dengan pola pengajaran konvensional, siswa cendrung menjadi objek dan robot. Pembelajaran menjadi kaku, karena mereka mesti diam, tangan dilipat di atas meja dan dilarang banyak bertanya. Media pembelajaran masih menggunakan papan tulis dan kapur/spidol. Sehingga mengabaikan modalitas visual, auditorial dan kinestetik dari siswa. Pembelajaran menjadi tidak menyenangkan. Padahal otak akan optimal bekerja ketika pembelajaran itu kreatif, aktif, dan menyenangkan.

Akibatnya mereka menjadi malas belajar, malas sekolah, sering bertindak nakal dan diluar batas seperti bolos, tawuran, mencontek, pergaulan bebas, narkoba, menghabiskan waktu di warnet, main games dan sebagainya.Bisa jadi itu bentuk sebagai pelampiasannya karena kejenuhan atau keterpaksaan belajar. Karena mereka beranggapan orang tua dan guru memaksa mereka untuk sekolah, padahal mereka lebih senang bermain. Lalu kenapa sekolah tidak kita jadikan “ajang permainan”. Maksudnya belajar sambil bermain. Hal itu tentu sangat terkait dengan kemampuan dan kreativitas guru sendiri bagaimana cara mengajar yang efektif, kreatif dan menyenangkan.

Kebanyakan guru hanya bisa mengajarkan tentang “apa”, tapi tidak bisa mengajarkan “bagaimana”. Guru lebih fokus mengajarkan mata pelajarannya. Tapi kadang lupa mengavaluasi bagaimana cara dia mengajar, bagaimana cara dia berkomunikasi dan melakukan presentasi dihadapan siswanya, bagaimana cara dia memotivasi siswanya, bagaimana membuat siswanya mudah dalam mencatat dan menghafal, media apa yang dia gunakan dalam mengajar, apakah dia melakukan pendekatan secara emosional dengan siswanya atau tidak dan lain-lain.

Bahkan ada guru yang menganggap siswanya sebagai musuh, sehingga menghadapi siswa tersebut dia emosi dan menggunakan kekerasan termasuk dengan menampar dan sebagainya. Akhirnya munculah prilaku-prilaku siswa yang melawan pada orang tua dan guru, yang sering membuat pusing, sedih dan kecewa dari orang tua dan guru. Lalu bagaimana cara kita mengatasinya?

Kita semua mengetahuai, bahwa masa remaja atau usia sekolah SMP dan SMA adalah masa seseorang mencari jati dirinya sehingga ini masa adalah masa yang sangat rawan bagi generasi muda kita. Jika mereka salah arah atau terpengaruh dengan yang negatif maka bisa berakibat fatal bagi masa depannya.Untuk itu mereka perlu dibimbing dengan baik, diberi bekal dan pengetahuan tentang siapa dirinya, mau kemana dia, apa bekal yang mesti disiapkannya dan bagaimana cara mencapai tujuan hidup/impiannya.

Salah satu persoalan yang terjadi hari ini adalah, banyaknya siswa kita yang bingung dan salah memilih jalur pendidikan/kuliah setamat SMA. Akibatnya ketika kuliah ada yang drop out. Kalaupun tamat, tapi dengan IPK yang rendah/pas-pasan. Sebagian yang gagal ini mengatakan sebab kegagalannya karena mereka tidak mengenal potensi yang dimilikinya sehingga asal memilih jurusan.

Mereka memilih jurusan tertentu karena pengaruh teman, pengaruh guru atau orang tua. Termasuk juga anjuran dari lembaga bimbel untuk memilih jurusan ketika SNMPTN berdasarkan berapa passing grade hasil try out yang didapatkannnya. Misal dari hasil try out didapatkan nilainya “sekian”, biasanya dianjurkan kalau ingin lulus SNMPTN maka ambillah jurusan ini dan universitas ini, maka bisa dijamin kemungkinan lulusnya mendekati 100%. Tapi saran itu kadang melupakan potensi dan bakat yang dimilikinya.Semestinya, ketika seorang anak diketahui bakatnya adalah Sastra, maka dianjurkan dia memilih jurusan Sastra, apakah melalui jalur SNMPTN ataupun swasta.

Penulis masih ingat ketika masa-masa SMA jurusan IPA adalah jurusan paling favorit, Siapa yang masuk IPA dianggap anak yang pintar. sehingga jurusan IPS atau Bahasa dianggap sebagai jurusan kelas dua dan kelas tiga,  yang masuk ke sana adalah anak-anak yang tidak lolos di IPA. Memilih kuliah di eksakta juga menjadi tujuan utama karena begitulah dorongan yang muncul dari guru dan orang tua meskipun itu tidak salah.Semua orang bercita-cita menjadi ilmuwan seperti habibie dan lainnya.Padahal belum tentu potensinya disana. Akibatnya ada teman yang sebenarnya nilai raportnya yang terbaik itu adalah nilai social tapi karena terpengaruh teman memilih kuliah di eksakta akhirnya ketika kuliah ada yang drop out dan ada juga yang tamat dengan IPK pas-pasan.

Banyak contoh orang yang jalur pendidikannya dan profesi yang dijalaninya berbeda.Mereka memilih profesi yang dijalaninya berdasarkan bakat dan potensi yang dimilikinya.Tapi justru mereka sukses besar bekerja di sana walaupun tidak linear dengan pendidikannya. Sebagai contoh Taufik Ismail seorang sastrawan besar di Indonesia ternyata kuliahnya di IPB jurusan kedokteran hewan. Atau Ary Ginanjar seorang penemu ESQ, dia tidak berlatar pendidikan, agama atau manajemen tapi berlatar belakang teknik tapi justru sukses di bidang yang berdasarkan minat dan bakatnya tersebut. Dan masih banyak lagi yang lain yang menurut saya “kurang tepat” memilih jalur pendidikan, disebabkan karena belum mengenali potensi yang mereka miliki ketika mereka di masa remaja atau SMA. Kalau dari awal mereka mengenali potensinya, tentu akan lebih dahsyat hasilnya. Dia akan lebih cepat sukses dan memberikan prestasi dan kontribusi yang besar bagi dirinya dan orang lain.

Untuk itulah mungkin Howard Gardner memunculkan konsep Multiple Intelligence untuk menghargai setiap potensi yang dimiliki seseorang. Dia membagi kecerdasan atau potensi yang dimiliki oleh seseorang itu menjadi delapan, yaitu kecerdasan matematik, kecerdasan linguistik, kecerdasan kinestetik, kecerdasan visual, kecerdasan musical, kecerdasan natural, kecerdasan antar personal, dan kecerdasan inter personal. Kecerdasan matematik adalah kemampuan seseorang dalam bidang matematika atau ilmu pasti, sehingga dia cocok menjadi kuliah di matematik  atau jurusan eksak yang lainnya dan nanti bekerja di bidang yang sama.

Kemudian kecerdasan linguistik atau kemampuan terkait dengan bahasa.Cirinya, Kalau pelajaran bahasa dia senang dan selalu mendapatkan nilai yang baik disana. Maka dia cocok untuk kuliah di jurusan bahasa atau sastra, dan bekerja juga di bidang yang sama. Seterusnya kecerdasan kinestetik yang terkait dengan bakat dibidang olahraga dan fisik.Hobinya olahraga dan senang bergerak secara fisik.Contoh orang sukses di bidang ini adalah para atlet terkenal seperti Lionel messi, Roger Federer, Michael Jordan, Rudy Hartono, dan lain-lain.Selanjutnya adalah kecerdasan visual terkait dengan kemampuan untuk menggambar atau membuat desian sehingga nanti cocok kuliah di bagian arsitektur, desain bangunan atau seni rupa.Kemudian kecerdasanmusical yang terkait dengan kemampuan bermain music, merancang lagu dan sebagainya.Contoh orang yang memiliki kecerdasan musical seperti Beethoven, Mozart dan lain-lain.

Selanjutnya adalah kecerdasan natural atau kecerdasan yang terkait dengan alam seperti menyukai tanaman, tumbuhan, hewan dan seterusnya, sehingga cocok memilih jalur karir di bidang pertanian, perkebunan, pertamanan.

Sekarang, salah satu penyebab munculnya kenakalan remaja terjadi karena orang tua dan guru kurang memahami kondisi mereka. Mereka kurang mendapatkan bimbingan apa yang harus dilakukannya dan apa yang harus dikembangkannya. Orang tua sibuk pada pekerjaannya sementara guru disibukkan dengan target pencapaiannya akademisnya masing-masing. Jarang guru bidang studi yang mau menjadi teman diskusi dan sharing permasalahan yang dialami oleh siswanya.

Kebanyakan guru sebatas mengajar apa yang menjadi tugasnya, tapi kurang memperhatikan kondisi, situasi, masalah dan potensi dari siswanya. Kalau ada masalah pribadi maka diserahkan saja pada guru Bimbingan Konseling, sedangkan jumlah siswa yang ditangani sangat banyak dan tidak sebanding dengan jumlah guru konselingnya. Kadang seorang siswa malas belajar, tidak mengerjakan PR atau sering membolos disebabkan oleh kondisi internal yang dialaminya dan itu jelas mempengaruhi nilai akademisnya  dengan guru bidang studi bersangkutkan.

Kecendrungan  guru hanya melihat dan mengukur keadaan siswa berdasarkan nilai yang ada saja tanpa melihat situasi dan kondisi yang mempengaruhi siswanya. Misalkan apakah guru pernah bertanya pada siswa kenapa dia tidak mengerjakan PR? bagaimana kalau dia tidak membuat PR karena sepulang sekolah dia mesti bekerja membantu orang tuanya sampai sore. Malamnya badan capek dan di rumah juga tidak ada listrik.Idealnya seorang guru itu menganggap siswa-siswanya sebagai anak-anaknya, bukan hanya sekedar muridnya yang menjadi pendengar ketika dia mengajar.

Guru hendaknya menjadi orang tua yang mampu untuk menjadi teman berbagi, berdiskusi, memotivasi dan mengembangkan potensi dari anak-anaknya tersebut.Sehingga dia memahami kondisi masing-masing siswanya, dia tahu kalau ada siswanya yang bertindak diluar kewajaran dia dapat mengatasinya dengan tepat dan segera, lalu bisa mengkoordinasikannya dengan orang tua untuk mencari solusi yang tepat.

Permasalahan yang lain di sekolah kita hari ini, siswa lebih banyak diajak untuk “belajar apa”, tapi tidak diajar belajar “bagaimana”. Apa maksudnya, “belajar apa dan belajar bagaimana.” Belajar apa itu maksudnya adalah belajar tentang yang harus kita pelajari seperti matematika, fisika, kimia, bahasa Indonesia, ekonomi dan lain-lainnya. Tapi jarang kita yang belajar tentang “cara belajar”? Bagaimana cara menghafal yang efektif? Bagaimana cara membaca cepat? Bagaimana cara berpikir yang benar? karena sikap seseorang sangat dipengaruhi oleh cara berpikirnya. Sikapnya kemudian sangat menentukan bagaimana nasibnya.

Contoh jika siswa terpola atau terbiasa untuk berpikir negatif ketika dia gagal atau mendapatkan nilai yang jelek dalam satu mata pelajaran maka dia menjadi takut atau tidak percaya diri lagi bahwa dia mampu untuk mendapatkan nilai yang baik pada mata pelajaran tersebut. Akibatnya memang betul-betul dia tidak menguasai pelajaran tersebut. Sehingga nilainya akan selalu rendah. Atau ketika dia ketinggalan mengikuti suatu mata pelajaran karena tidak memahaminya, tapi karena takut bertanya karena takut dianggap bodoh atau banyak tanya oleh guru, takut di cemooh oleh teman-temannya sehingga dia menyimpan saja ketidak pahaman tersebut. Akibatnya dia akan semakin tidak menguasai mata pelajaran itu.

Bagaimana mengatasi persoalan tersebut?program pendidikan berkarakter yang diluncurkan pemerintah mungkin salah satu jawaban untuk itu. Namun sampai hari ini masih belum begitu maksimal.Namun kita berharap bukan hanya pemerintah yang bertanggung jawab untuk mengembangkan potensi dan membangun karakter generasi muda kita.

Menurut kami perlu ada partisipasi dan kontribusi masyarakat. Bentuk kongkritnya adalah dengan membangun sebuah lembaga atau institusi yang focus kemudian bersinergi dengan orang tua dan sekolah untuk  menjawab persoalan ini. Kita perlu menghadirkan sebuah Sekolahyang bertujuan untuk mengenali potensi generasi muda kita, mengembangkan dan memotivasinya untuk terus maju, membangun konsep diri dan kepercayaan dirinya, membangun pola pikirnyaagar senantiasa positif dan kreatif, membimbing dan mengarahkannya untuk mampu mengatasi masalahnya sendiri (problem solving), memberikan bekal ilmu kesuksesan, pengembangan diri dan perencanaan hidup yang sudah terbukti banyak orang sukses yang sudah melakukannya (soft skill) dan membangun karakternya.

Sebagaimana konsep Quantum Learning yang luar biasa seperti yang telah dikembangkan oleh Bobbi De Porter. Konsep ini pertama kali dikembangkannya pada tahun 1982 dengan membuat “Super Camp”, sebuah perkemahan pelajar, selama 10 hari. Pada Super Camp ini mereka belajar tentang  membangun rasa percaya diri, keterampilan belajar dan keterampilan berkomunikasi dalam lingkungan yang menyenangkan.

Hasilnya cukup luar biasa, pesertanya sangat antusias dan beredarlah berita dari mulut ke mulut. Perkemahan ini diadakan diseluruh dunia dan tempat-tempat seperti Singapura dan Moskow. Ribuan orang telah merasakan manfaat dari kegiatan ini.Secara akademis ada seorang gadis yang indeks prestasinya naik dari 1.8 menjadi 4.0.Kombinasi kurikulum di Super Camp adalah kombinasi dari beberapa unsure yang dikembangkan dari suatu falsafah bahwa belajar dapat dan harus menyenangkan. Disini mereka belajar tentang keterampilan akademis, keterampilan dalam hidup dan tantangan-tantangan fisik (outbond).

Metode Quantum Learning ini berakar dari upaya Dr Georgi Lozanov seorang pendidik berkebangsaan Bulgaria yang bereksperimen dengan apa yang disebutnya suggestology atau suggestopedia. Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar dan setiap detail apapun memberikan sugesti positif ataupun negative. Beberapa teknik yang digunakan untuk memberikan sugesti positif adalah mendudukan murid secara nyaman, memasang music latar didalam kelas, meningkatkan partisipasi individu, menggunakan poster-poster yang memotivasi, dan menyediakan guru-guru yang terlatih baik dalam seni pengajaran sugestif.

Quantum learning juga mencakup aspek penting dalam program Neurolinguistik programming (NLP) yaitu penelitian tentang bagaimana otak mengatur informasi.Program ini meneliti hubungan antara bahasa dan prilaku dan diapat digunakan untuk menciptakan jalinan pengertian antara siswa dan guru.Para pendidik dengan pengetahuan NLP mengetahui bagaimana menggunakan bahasa yang positif untuk meningkatkan tindakan-tindakan yang positif yang menjadi factor penting untuk merangsang fungsi otak yang paling efektif.

Hasil riset Disertasi Doktoral yang dilakukan Jeannete Vos tahun 1991, membuktikan bahwa konsep Quantum Learning yang diterapkan di Super Camp sangat berhasil dan harus dipertimbangkan sebagai model replica.Penelitian ini melibatkan 6.042 lulusan Super Camp usia 12 – 22 tahun dan menggunakan data kualitatif dan kuantitatif. Hasilnya 68 %meningkatkan motivasi.73 % meningkatkan nilai belajar.81 % memperbesar keyakinan diri.84 % meningkatkan kehormatan diri.96 % mempertahankan sikap positif terhadap Supercamp dan 98 % melanjutkan memanfaatkan keterampilan.Kemudian 97 % dari siswa yang memiliki indeks prestasi 1.9 atau lebih rendah berhasil meningkatkan nilai mereka rata-rata satu point.

Adam Khoo seorang Milliarder di usia 26 tahun yang tinggal di Singapura adalah orang yang berhasil membuktikan keampuhan konsep ini. Semenjak SD dia dikenal sebagai murid yang bodoh, malas, agak terbelakang dan tidak ada harapan, sehingga mesti pindah sekolah supaya naik kelas.Ketika SD dia benci membaca, maunya hanya main game computer dan nonton TV.Karena tidak belajar banyak nilai F yang membuatnya semakin benci pada gurunya, benci belajar dan benci terhadap sekolah.Ketika mau masuk SMP dia ditolak 6 sekolah dan akhirnya masuk sekolah yang terjelek.Tapi di sekolah tersebut dia juga masuk 10 murid dengan nilai terendah. Sehingga orangtuanya bingung dan panic lalu mengirimnya ke banyak les dan bimbel, tapi hasilnya tidak menolong sama sekali. Bahkan seorang guru matematikanya pernah mengundang ibunya ke sekolah untuk bertanya kenapa dia tidak mampu mengerjakan soal matematika untuk anak kelas empat SD padahal dia duduk di SMP kelas 1.

Pada umur 13 tahun dia mengikuti Super Teen program yang diajar oleh seseorang yang bernama Ernest Wong yang menggunakan teknologi accelerated learning,dan NLP sebagaimana konsep yang di kembangkan oleh Bobbi De Porter. Satu pelajaran yang sangat berkesan baginya yang dikatakan oleh gurunya tersebut adalah “satu-satuya hal yang bisa menghalangi kita adalah keyakinan yang salah serta sikap yang negative. Dia merubah keyakiannya bahwa jika orang bias mendapatkan nilai A, maka dia juga bisa. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia berani menerapkan target dan impiannya untuk mendapatkan nilai A, mausk ke Victoria Junior College (SMA terbaik di Singapura) dan masuk ke National University of Sinagapore dan menjadi murid terbaik disana.

Setelah itu dia langsung melakukan tindakan dengan menerapkan ilmu yang didapatkannya dari yaitu belajar dengan menggunakan cara belajar yang efektif, yaitu menggunakan teknik membaca cepat, cara mencatat menggunakan kedua belajan otak dan menggunakan teknik super memory. Dalam waktu 3 bulan nilainya naik menjadi 70. Dalam satu tahun dari rangking terbawah menjadi rangking 18, dan ketika lulus SM mendapatkan rangking 1 dengan NEM nya A untuk semua mata pelajaran yang diuji. Dia diterima di Victoria Junior College dan akhirnya diterima pula di National University of Singapore.

Setiap tahun dia menjadi mahasiswa yang berprestasi, sehingga dimasukan ke NUS Talent Development Program.Program ini diberikan pada mahasiswa yang dianggap jenius.Selama sekolah semenjak SMP tersebut dia juga terus menjalankan hobinya untuk berbisnis.Beberapa bisnis yang digarapnya juga sukses. Sehingga pada usia 26 tahun omsetnya mencapai 20 juta Dollar amerika. Ternyata siswa yang dulu dianggap bodoh dan terbelakang, berhasil menjadi seseorang yang sukses secara akademik dan financial, dengan cara merubah caranya berpikir, keyakinan, motivasi dan sikap mentalnya,  sehingga berhasil meraih sukses yang dicita-citakannya.

Inilah salah satu model dan konsep yang  bisa dan sebaiknya kita terapkan dalam pendidikan kita. Bahwa yang paling pertama harus kita bangun pada diri siswa kita adalah potensi, motivasi, kepercayaan diri, mind set dan karakternya. Ibarat bangunan, maka yang kita bangun adalah pondasinya, setelah itu baru kita bangun tiang, dinding dan atapnya. Artinya, sebelum menyuruh siswa kita untuk memikirkan mata pelajarannya, kita harus mengajarkannya tentang cara berpikir yang benar dan keterampilan berpikir. Sebelum menyuruhnya untuk mempelajari sesuatu, maka kita harus membekalinya bagaimana cara belajar yang benar dan efektif tersebut.

Sebelum kita menyuruhnya sekolah, kita harus menjelaskan apa urgensi sekolah danmakna belajar itu bagi mereka sehingga memahami apa tujuannya dia sekolah dan manfaatnya bagi masa depan.Sebelum kita biarkan dia bertarung dalam lapangan kehidupan harus dibekali dulu dengan nilai-nilai keimanan, spiritual dan moral, berbakti pada orang tua dan taat kepada Allah swt sehingga kita bisa melahirkan generasi muda  optimis, cerdas, berilmu, jujur, bertanggung jawab demi masa depan yang lebih baik.

Dan yang tidak kalah pentingnya, kita harus mengajak siswa kita untuk berani bermimpi tentang masa depan yang sesuai dengan potensi dan bakatnya, serta bagaimana cara untuk mencapainya. Semoga Allah swt memberi pertolongan dan kekuatan bagi kita untuk mewujudkannya.