Positifers Daftar » Masuk
Logo KlikPositif
WIB
Logo Classy FM Logo Facebook Logo Twitter
Jum'at, 12 Juli 2013 | 13:43 WIB
Data Kerusakan Gempa Aceh Ditargetkan Selesai Hari Ini
Data sementara Badan Nasional Penanggulanngan Bencana (BNPB) menyebutkan, jumlah rumah rusak 16.019 unit: 6.178 rusak berat, 3.061 rusak sedang, dan 6.780 rusak ringan
Wartawan: Erinaldi | Editor: Redaksi
Data Kerusakan Gempa Aceh Ditargetkan Selesai Hari Ini
Pengungsi gempa Aceh (sindikasi.net)

KLIKPOSITIF -- Pendataan kerusakan rumah terus akibat gempa Aceh ditargetkan selesai hari ini, Jumat, 12 Juli 2013. Finalisasi jumlah ini kerusakan ini diharapkan tidak mengalami perubahan di kemudian hari.
 
Data sementara Badan Nasional Penanggulanngan Bencana (BNPB) menyebutkan, jumlah rumah rusak 16.019 unit: 6.178 rusak berat, 3.061 rusak sedang, dan 6.780 rusak ringan. Di Kabupaten Aceh Tengah, pendataan telah selesai dilakukan.

Menurut data terakhir, rumah yang mengalami kerusakan di Aceh Tengah yakni 13.862 unit: 5.516 rusak berat, 2.750 rusak sedang, dan 5.596 rusak ringan. Data sudah selesai direkap berdasarkan by name, by address dan by picture.

Sedangkan di Kabupaten Bener Meriah, data sementara menunjukkan, 2.157 unit rumah rusak: 662 rusak berat, 311 rusak sedang, dan 1.184 rusak ringan. BNPB akan melakukan verifikasi terhadap kerusakan rumah yang diusulkan oleh Pemda.
 
Seperti dikutip dari situs BNPB, BNPB bersama Kementerian Keuangan akan membahas mekanisme pendanaannya untuk mempercepat proses rehab-rekon. Jika menggunakan dana rehabilitasi dan rekonstruksi regular yang ada di BNPB akan memerlukan waktu yang cukup lama.

Adapun mekanisme pelakasanaan rehab-rekon tersebut yakni dengan membentuk kelompok masyarakat (pokmas) yang dibantu fasilitator. Satu pokmas terdiri 10 KK dari tetangga terdekat. Fasilitator mendampingi 3-5 pokmas dalam pendampingan teknis, administrasi dan sosek.

Dana dari pemerintah dikirimkan ke rekening pokmas tersebut. Mekanisme ini telah berhasil diterapkan BNPB dalam rehab rekon pasca gempa Sumbar (2009), pasca erupsi Merapi (2010) dan lainnya. (ed)